Mengelola Social Media (Bangwin's way)

Pada saat ini memiliki web bukanlah sesuatu yang istimewa, eits jangan salah tangkap dulu, yang saya maksud dengan bukan sesuatu yang istimewa karena saat ini untuk memiliki sebuah web sudah begitu mudahnya. Hanya dengan mendaftarkan diri ke wordpress.com atau blogger maka anda sudah bisa memiliki sebuah website pribadi yang berbasiskan blog. Mudah bukan? Sehingga untuk menjadikan website/blog anda sesuatu yang istimewa, isi atau konten lah yang sekarang memegang peranan penting. Sebagaimana kita ketahui bahwa semakin menarik blog anda maka semakin banyak orang yang ingin berkunjung dan membaca posting-posting yang anda pasang di blog anda. Begitulah kira-kira “aturan-main” tidak tertulis dan tidak resmi dalam dunia internet.

Lalu bagaimana dengan kehadiran social media lainnya seperti Facebook dan Twitter? Bagaimana dampaknya terhadap eksistensi pemilik blog? Ya Ini adalah pertanyaan yang dulunya sering menghantui saya juga. Di saat seseorang mulai asyik mengurusi Facebook account atau witter account atau bahkan keduanya, maka blog mereka miliki kadang-kadang jadi terbengkalai. Rasanya berat untuk menulis dengan banyak kata bila kita harus menulis blog secara reguler, dan ini tidak terjadi kalau kita mengupdate, katakanlah status Facebook ataupun status Twitter, karena bisa kapan saja, pendek dan tidak butuh banyak kata, dan kondisi seperti ini menjadikan blog semakin lama semakin kelihatan “tenggelam”. Ditambah dengan beberapa Social Media memiliki juga fungsi blog tersebut di dalamnya, ya contohnya Notes pada Facebook atau blog pada Ning misalnya. Lalu apa yang harus dilakukan dengan blog kita?

Saya pribadi selalu melihat setidaknya ada tiga definisi produk dalam menjelaskan apa itu Social Media, dan terus terang sampai saat ini saya selalu mengkategorikan blog ada di salah satu dari tiga definisi tersebut, yaitu:

1. Microblogging
Seperti layaknya Social Media lainnya, microblogging memiliki fungsi “share” yang jelas, namun karena dulunya dibuat untuk bisa digunakan juga dengan media mobile (saat itu sms), maka jumlah karakter yang bisa di posting sangat terbatas, yaitu hanya 140 karakter. Lalu apa istimewanya dengan fitur yang hanya bisa memuat 140 karakter? Banyak orang menyukai microblogging karena kecepatannya, dan saking cepatnya hingga menyerupai aktifitas chat, hanya dengan microblogging ini kita bisa berkomunikasi sekaligus dengan banyak orang. Twitter adalah pelopor microblogging dan juga memiliki pengguna terbesar sampai saat ini.

2. Blogging
Blogging adalah aktifitas awal yang dilakukan pada media blog. Tidak seperti microblogging yang terbatas hanya 140 karakter, aktifitas blogging biasanya menuntut kita untuk menulis sesuatu yang jauh lebih serius dibandingkan dengan aktifitas microblogging, walaupun pendapat ini pun sebenarnya sama sekali bukan menjadi kesepakatan umum, tapi setidaknya dengan media yang melonggarkan untuk kita mengisi konten sebanyak apapun, lalu dengan media apapun membuat para pemilik blog biasanya berfikir lebih jauh ketika memutuskan untuk mengisi konten didalamnya. WordPress & Blogger adalah dua produk yang leading dalam jajaran produk blog

3. Social Networking
Media social network adalah media yang menggabungkan semua aspek dalam aktifitas “berbagi” di internet yang biasa disebut dengan social networking. Dengan media ini beberapa aktifitas dari social media bisa dilakukan dalam satu tempat, misalnya aktifitas mengupdate status (microblogging), blogging, photo sharing, link-sharing, application sharing, etc, etc. Dengan fungsinya yang luas, maka kehadiran media social networking ini membuat aktitas blogging di blog menjadi banyak yang mandeg karena biasanya ada juga fungsi blog dalam media ini. Contoh yang paling populer saat ini adalah Facebook, lalu ada juga Friendster, dan lain sebagainya.

Butuh waktu beberapa bulan buat saya untuk memutuskan dan mengatur bagaimana status semua account-account produk social media yang saya miliki sampai akhirnya saya menyusun dan redefinisikan kembali ketiga point diatas. Hasilnya adalah:

1. Saya memperlakukan Facebook account saya plus Facebook Page saya (Bangwinissimo Post) sebagai kantor saya, dimana semua trafik data informasi bisa didistribusikan ke seluruh network yang terhubung dengan Facebook account saya.

2. Saya memperlakukan  Twitter account saya sebagai tim wartawan sekaligus juga tim penjual (sales) saya. Dimana dengan Twitter saya bisa mendapatkan informasi secara cepat dan mengalirkannya ke kantor operasional saya untuk juga bisa di share ke “koran” saya (Bangwinissimo Post) yang ada di negara “Facebook”.

3. Saya selalu menganggap blog saya seperti rumah saya, dimana semua materi yang di share disini lebih pada hal-hal yang personal, pemikiran-pemikiran ataupun ide-ide. Tapi saya pun memasukkan ruang kerja disitu (Facebook Badge dan Twitter status) sehingga para pengunjung tetap bisa mengikuti apa saja yang terjadi di ‘kantor’ saya (Facebook badge) dan juga dengan tim wartawan dan tim penjual (Twitter) saya.

Dengan pengaturan seperti ini maka tidak ada alasan untuk mengabaikan produk-produk social media yang saya miliki. Semuanya memegang peranan penting dan semuanya menjadi bisa saling mendukung karena semuanya memang terhubung satu sama lain.

Bagaimana dengan anda?