Budaya Ngobrol di Social Media
Kita semua tentunya mengenal apa yang disebut dengan Twitter, microblogging tool yang memiliki fungsi awal “berbagi” dengan teman-teman kita apa yang sedang kita kerjakan. Setidaknya itulah yang diinginkan oleh Jack Dorsey ketika pertama kali membuat Twitter ini. Dengan karakteristik yang sangat mirip SMS (140 karakter), maka Twitter ini sempat dijuluki “SMS of the Internet” .
Fungsi awal boleh-boleh saja diinginkan oleh si pengembang, tapi tetap saja penggunaan sebuah produk itu nasibnya ditentukan oleh si pengguna. Saya ingat di jaman mailing-list masih jaya-jayanya (di sekitar tahun 1997 sampai dengan mulai lahirnya Social Network), sudah menjadi hal yang biasa untuk membiarkan para member untuk menggunakan mailing-list hanya untuk sekedar menyapa, janjian, atau paling jauh menggosip sebelum mereka kembali ingat pada tujuan awal dibuatnya mailing-list tersebut (kecuali memang mailing-list tersebut untuk tujuan tersebut). Begitu juga dengan Twitter dalam pengamatan saya semenjak menggunakan Twitter pada tahun 2008 sampai sekarang pun mengalami hal yang serupa. Selayaknya sebungkah tanah liat maka tiap orang bisa menjadikan Twitter tidak melulu tembikar, tapi juga patung, dan perkakas-perkakas lainnya. Setidaknya analogi ini lah yang saya tangkap ketika pertanyaan tentang fungsi Twitter ini dijawab oleh tiap orang dengan cara yang berbeda-beda, yaitu mulai dari mengupdate kegiatan yang sedang dilakukan, berbagi rencana, janjian, ngobrol, dan pesan apa saja yang bisa muat dalam batas 140 karakter tersebut.
Karakter yang saya dapatkan sebagai seorang Indonesia yang ternyata sangat signifikan bedanya dengan negara-negara lain (bahkan dengan negara tetangga sekalipun) adalah budaya ngobrol. Orang Indonesia sangat suka ngobrol, suka ngumpul, suka bersenda gurau, dan dengan karakter dasar ini maka teknologi yang berkaitan dengan internet menjadi perpanjangan fasilitas yang memungkinkan kita semua melakukan budaya ngobrol ini. Sebut saja mulai dari mbah nya Social Media, Mailing-List (dimana pada saat itu belum muncul istilah Social Media), yang dijadikan ajang ngobrol, bercanda, selain tentunya juga untuk berdiskusi. Juga Forum yang sama seperti mailing-list dibuat dengan tujuan untuk saling berbagi informasi dan diskusi, juga akhirnya digunakan untuk menjalankan budaya ngobrol itu tadi. Bersamaan dengan itu, di ranah lain yaitu mobile, SMS menjadi fasilitas yang sangat populer karena bisa mengakomodir budaya ngobrol ini. Bagaimana tidak, yang tadinya kita harus melakukan minimal kegiatan menelpon kini bisa dengan mudahnya dilakukan dengan hanya mengandalkan jari jemari kita, tanpa suara, dan instan. Sebuah lompatan yang cukup jauh yang membuat berkomunikasi (bahasa keren dari ngobrol) jadi tak terbatas.
Bagaimana dengan Social Media lainnya seperti Facebook dan Friendster? Dengan fitur yang menunjang member untuk bisa berinteraksi (lagi-lagi istilah keren dari Ngobrol) kedua social media tersebut berhasil merebut hati masyarakat kita, walaupun akhirnya Facebook dengan pertumbuhannya yang fenomenal di Indonesia lah yang jadi pemenang. Dibandingkan dengan Twitter, Facebook memiliki fasilitas interaksi antar member yang jauh lebih lengkap, mulai dari fitur status (sama dengan fungsi Twitter) sampai dengan segala macam sharing. Sharing tulisan dgn notes, foto, link, sapa-menyapa dengan Wall, sampai dengan fasilitas yang menurut saya tidak ada gunanya, yaitu Poke (LOL). Sehingga dengan semua fasilitas interaksi ini menjadikannya sangat pas dengan karakter masyarakat kita, maka populer lah Facebook di Indonesia…:-)
Dengan karakteristik masyarakat Indonesia ini, maka sangat jelas apa yang bisa dilakukan oleh pengembang social media bila ingin sukses di pasar lokal Indonesia. Mendekatlah pada pengguna dan masuklah dengan menggunakan budaya Ngobrol, dengan tentu saja ngobrolnya mesti menarik (ini mandatori untuk setiap produk apapun juga, hehehe). Setidaknya ada tiga produk lokal yang lewat di kepala saya pada saat ini yang saya anggap berhasil menggunakan pendekatan budaya Ngobrol ini, Kemudian.Com, Politikana.Com dan Koprol.Com. Menurut saya ketiga produk ini merupakan model Social Media lokal yang berhasil merangkul masyarakat kita.
Bagaimana pendapat anda?