Apa Gunanya Berbagi di Social Media?

Dalam buku yang berjudul Socialnomics oleh Erik Qualman ada beberapa contoh kasus yang berkaitan dengan penggunaan Social Media yang sangat sejalan dengan ‘budaya ngobrol’ yang kebetulan pernah saya buat blogpost nya beberapa saat yang lalu, sehingga saya tertarik untuk menulis blogpost lanjutan untuk sekedar berbagi.

Judul di atas sebenarnya pertanyaan sederhana yang sering dilontarkan oleh banyak pengguna social media saat pertama kali melihat rentetan status updates yang mereka terima dikala mereka mulai menambahkan teman-teman pada friendlist mereka atau mengikuti account Twitter teman-teman sebagai follower mereka. Beberapa pengguna bahkan menjadi frustasi saat mereka tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Sejauh pengamatan saya, pengguna social media di Indonesia terbagi paling sedikit ada tiga jenis yaitu

  • Penganut ‘budaya ngobrol’ yang memang menjadi budaya dasar kita semua, sehingga dalam sudut pandang mereka social media ini adalah sebuah alat untuk mempermudah mereka melakukan aktifitas ‘bergaul’ tersebut.
  • Mereka-mereka yang memang menggunakan social media hanya untuk mendapatkan hal-hal yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Biasanya kalangan ini jauh lebih ‘pendiam’ dan hanya merespons hal-hal yang sesuai dengan interest mereka serta juga hanya berbagi untuk hal-hal yang spesifik itu pula.
  • Mereka-mereka yang memang sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari memiliki keahlian tertentu ataupun sudah dikenal dalam topik-topik tertentu. Kalangan ini bisa tetap ‘rame’ bergaul menggunakan social media tapi juga bisa fokus bila sedang berbagi hal-hal yang mereka kuasai.

Lalu pertanyaannya, jenis manakah yang paling banyak di Indonesia? Bila kita lihat perkembangannya social media yang sangat pesat di Indonesia, maka saya bisa menebak bahwa kalangan pertama lah yang akan memimpin lalu disusul dengan kalangan ketiga, dan kalangan kedua menempati urutan terakhir. Ada dasar pembuktian untuk itu? Sayangnya saya belum punya oleh karena itu saya hanya bisa menebak, dan saya janji jika saya mendapatkannya akan saya posting pada blogpost berikutnya :-D

Kunci dari social media adalah memungkinkan kita dengan mudahnya mengikuti apa yang sedang orang lain lakukan melalui pengamatan sederhana. Beberapa orang bisa berargumen, “wah, sekarang saja waktu saya sudah tidak cukup, bagaimana mungkin saya mesti meluangkan waktu lagi hanya untuk mengikuti kegiatan orang lain atau tetap updated dengan kondisi orang lain? Itu buang-buang waktu namanya!” Ini adalah kesalah-pengertian yang mendasar, karena pada intinya sebenarnya “buang waktu di Facebook dan Social Media bisa membuat kita lebih produktif”. Walaah bagaimana bisa? Coba saya runut sebuah contoh kasus tentang seorang karakter ibu yang kita sebut saja ibu Ida.

Pada satu saat, beberapa hari menjelang 17 Agustus, ibu Ida harus ke dokter untuk mengecek kandungannya. Tapi ternyata ia mendapatkan urutan ke 5, pada saat ia sampai di sana. Bila setiap pasien rata-rata menghabiskan waktu 5 menit saja, maka ibu Ida paling sedikit harus menunggu selama sekitar 25 menit. Selama waktu menunggu tersebut, ibu Ida bisa melakukan beberapa pilihan:

  1. Duduk di ruang tunggu dan baca-baca majalah yang belum tentu ia sukai
  2. Menelpon beberapa teman dan ngobrol sana-sini yang secara otomatis mengganggu pasien lainnya di ruang tunggu.
  3. Pergi ke mall terdekat sambil menunggu dengan resiko nomer urutnya terlewati plus belanja hal-hal yang tidak ia butuhkan.
  4. Memonitor updates pada social media melalui telpon genggam nya.
  5. Merenung dan jengkel dalam hati karena ia harus menunggu sedemikian lama.

Ibu Ida akhirnya memilih no. 4, dan ini lah yang terjadi:

  • Status ibu Ida: Harus menunggu selama kira2 25 menit di dokter, enaknya ngapain ya?
  • Status teman 1: Asiiik bakalan liburan ke Baliiii…!!
  • Status teman 2: Wah gak nyangka anakku senang makan roti + peanut butter.
  • Status teman 3: alhamdulillah aku hamil
  • Status Andy anaknya ibu Ida: Asiik, ujian matematika dapet A, mesti dirayain nih
  • Komentar teman 4 buat ibu Ida: Paling asik kalau lagi nunggu gitu ya meditasi dan yoga, sekalian praktek apa yang dilatih kan?
  • Status teman 3: Akan melakukan USG utk pertama kali. Kami memutuskan utk tidak mendahului cari tahu laki2 atau perempuan
  • Post dari teman 5: Video tentang bagaimana mendekor sepeda untuk pawai. Sangat berguna untuk pawai 17an www.tinyurl.com/pwspd

Setelah membaca status updates tersebut ibu Ida masih ada waktu beberapa saat untuk mempraktekkan meditasi untuk ibu-ibu hamil, plus yoga ringan yang sering diajarkan di kantor. Setelah itu ia langsung menambahkan reminder untuk membeli sesuatu untuk anaknya sebagai hadiah atas lulus dengan angka baik.

Ibu Ida akan mengunjungi teman 3 yang baru ketahuan hamil tersebut untuk memberikan selamat. Karena sudah ter update, maka ibu Ida tidak akan bertanya-tanya jika melihat perubahan pada temannya tersebut, dan juga ia tidak akan buang-buang waktu bertanya apakah bayi mereka laki-laki atau perempuan berdasarkan status updates teman 3 tersebut karena menurut pengalamannya sangat melelahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam perjalanannya pulang dari dokter, ibu Ida menyempatkan diri mampir ke toko swalayan untuk membeli es krim buat hadiah anaknya, lalu suami ibu Ida menelpon.

“Halo sayang, aku dalam perjalanan pulang ke rumah ya. Kamu hari ini gimana kabarnya?”

“Ya masih lumayan sibuk sih, masih ada satu pe er, yaitu bantuin Andi mendekorasi sepedanya, cuman keliatannya gak gitu bagus. Kertas hiasnya robek terus.”

“Tapi tadi aku lihat dari link yang di post oleh teman 5 ada video tentang bagaimana caranya mendekorasi sepeda, mungkin kamu bisa bantu cek video nya kalau sudah sampai rumah. Kali-kali aja idenya bisa kita pakai.”

Cerita tentang ibu Ida ini hanya ilustrasi kehidupan sehari-hari yang tidak terlalu mengada-ada, tentunya. Ini adalah contoh bagaimana social media menjadikan pertanyaan “Apa Gunanya Berbagi di Social Media?” jadi bisa terjawab. Dan juga mementahkan anggapan bahwa social media hanya cocok untuk anak muda yang terlalu banyak waktu senggang alias banyak nganggurnya.