Berlebaran di Era Social Media

Saya mulai mengamati perkembangan dunia internet pada aspek-aspek kehidupan kita sejak sekitar tahun 1997, di mana secara sedikit demi dan seiring dengan masuknya internet kedalam kehidupan kita maka muncullah kebiasaan-kebiasaan baru yang bergantung pada dunia maya ini. Tidak dipungkiri bahwa masuknya internet pada sendi-sendi kehidupan kita membuat lama kelamaan internet akan menjadi salah satu platform kehidupan kita dan ini akan menjadi kajian yang menarik di masa mendatang.

Lebaran telah datang, saatnya bersilaturahmi bagi kita semua dengan ditandai naiknya aktivitas bersilaturahmi diantara kerabat, teman-teman, dan kolega-kolega. Setelah di tahun-tahun yang lalu orang-orang mengoptimalkan penggunaan SMS yang berbasiskan mobile untuk bersilaturahmi, juga MMS dan bahkan video mobile yang dikirimkan lewat handphone, di tahun 2010 ini menurut saya adalah tahun kebangkitan social media dalam penggunaannya sebagai media silaturahmi. Bila boleh saya telaah satu persatu, mungkin akan menarik jika disimak:

Facebook

  • Kartu lebaran digital (image) yang di tag oleh si pembuat dengan nama-nama teman yang ada di Facebook mendominasi aktivitas silaturahmi di Facebook. Bahkan jauh melewati ucapan yang berupa teks pada Wall.
  • Percakapan (conversation) yang terjadi di generate dari respon balik oleh teman-teman yang di tag tersebut.
  • Sehingga yang terjadi adalah rentetan panjang aktivitas chatting yang berkaitan dengan silaturahmi pada commenting sistem di tiap-tiap foto kartu digital tersebut.

Twitter

  • Ucapan selamat lebaran yang singkat karena sebagian besar pada badan tweet dipenuhi oleh twitter ID teman-teman yang dituju.
  • Gelombang reply-all membuat respon balik dari teman-teman yang diberikan ucapan menjadi seperti bola salju yang terkirim balik ke tiap-tiap twitter ID pada tweet tersebut
  • Sehingga yang terjadi adalah rentetan panjang aktivitas silaturahmi pada timeline
  • Dengan jumlah pengguna Twitter yang menempati urutan pertama di Asia membuat ucapan Minal Aidzin Walfaidzin menjadi trending topic sehari sebelum hari lebaran.

Pola serupa terjadi juga pada pengguna Blackberry, di mana fungsi Blackberry Group memungkinkan silaturahmi ala social media juga terjadi di sini.

Saya masih menerima ucapan melalui SMS dan juga via Messenger (saya menggunakan Yahoo! Messenger), tapi intensitas kesibukan silaturahmi ini sangat terasa pada dua social media di atas.

Bagaimana dengan Anda?

Apakah Anda Seorang Pecandu Internet?

Internetaddict

Beberapa waktu yang lalu saya menerima sebuah potongan artikel yang dikirimkan oleh seorang teman (pak Patahan) yang tinggal di Haven Plaza, bilangan Alphabet City, Manhattan, New York City. Potongan artikel tersebut sangat menarik karena jadi membuat saya bertanya2 apakah saya seorang pecandu internet? Kalau ditanyakan secara pribadi sih saya akan mengakui bahwa saya seorang internet junkies….hehehe. Tapi karena penasaran juga apa yang dibahas dalam artikel tersebut, maka saya klik link yang diberikan dan muncullah artikel yang ditulis oleh seorang kolumnis bernama Gina Hughes (The Tech Diva) di Yahoo!Tech. Untuk selanjutnya saya copy-paste kan artikel tersebut dibawah ini dan silahkan tentukan sendiri apakah anda seorang internet junkies atau bukan…:-)

Are You an Internet Addict?

I was reading through an AFP report on Yahoo! News that says Serbia is now treating people with Internet addictions. This counseling center considers anyone who is not interested in daily activities with family and friends as a potential Internet addict and looks for other signs such as spending prolonged hours online, turning to virtual friends, and isolation. I’m not sure exactly how they treat Internet addiction, but they say treatment usually lasts one year.

After reading this, I headed over to Net Addiction and took an Internet Addiction Test (IAT) that told me my Internet usage is causing occasional problems in my life. I won’t take that test too seriously because my occupation requires me to be online a lot of the time. However, I will keep that in mind next time I choose surfing the web over, er, household chores. Can you blame me?

Internet addiction can be harmful for those who delve into the darker side of the web, such as online gambling, cybersex, online affairs, and online gaming. But how do you know when you or someone you love is addicted to the Internet? When is it time to pull the plug and seek treatment?

Here’s a list of common symptoms to watch out for:

1. Lying about how much time is spent online.
2. General decrease of physical activity and social life.
3. Neglecting obligations at home, work, or school to spend time online.
4. Spending too much money on computer equipment or Internet activities.
5. Feeling a constant desire to be online when they’re away from the computer.
6. Going online to escape real world problems.
7. Disregarding the emotional or physical consequences
of being in front of a computer all day.
8. Denial of the problem.

There is much debate about the reality of Internet addiction. The bottom line is that anything can be harmful when abused. If you find yourself spending more time online than with real people, then plan for some quality time with the family or friends every other day. Find anactivity the whole family enjoys and make a date with them.

I personally disconnect completely every weekend and get out of the house so I’m not tempted to check email. I also have movie nights and “Lost” nights during the week, which are a great excuse to turn off the computer. Different things work for different people, so just find something you enjoy and don’t hesitate to shut the computer off.

What do you do to escape cyberspace?

Mengelola Social Media (Bangwin's way)

Pada saat ini memiliki web bukanlah sesuatu yang istimewa, eits jangan salah tangkap dulu, yang saya maksud dengan bukan sesuatu yang istimewa karena saat ini untuk memiliki sebuah web sudah begitu mudahnya. Hanya dengan mendaftarkan diri ke wordpress.com atau blogger maka anda sudah bisa memiliki sebuah website pribadi yang berbasiskan blog. Mudah bukan? Sehingga untuk menjadikan website/blog anda sesuatu yang istimewa, isi atau konten lah yang sekarang memegang peranan penting. Sebagaimana kita ketahui bahwa semakin menarik blog anda maka semakin banyak orang yang ingin berkunjung dan membaca posting-posting yang anda pasang di blog anda. Begitulah kira-kira “aturan-main” tidak tertulis dan tidak resmi dalam dunia internet.

Lalu bagaimana dengan kehadiran social media lainnya seperti Facebook dan Twitter? Bagaimana dampaknya terhadap eksistensi pemilik blog? Ya Ini adalah pertanyaan yang dulunya sering menghantui saya juga. Di saat seseorang mulai asyik mengurusi Facebook account atau witter account atau bahkan keduanya, maka blog mereka miliki kadang-kadang jadi terbengkalai. Rasanya berat untuk menulis dengan banyak kata bila kita harus menulis blog secara reguler, dan ini tidak terjadi kalau kita mengupdate, katakanlah status Facebook ataupun status Twitter, karena bisa kapan saja, pendek dan tidak butuh banyak kata, dan kondisi seperti ini menjadikan blog semakin lama semakin kelihatan “tenggelam”. Ditambah dengan beberapa Social Media memiliki juga fungsi blog tersebut di dalamnya, ya contohnya Notes pada Facebook atau blog pada Ning misalnya. Lalu apa yang harus dilakukan dengan blog kita?

Saya pribadi selalu melihat setidaknya ada tiga definisi produk dalam menjelaskan apa itu Social Media, dan terus terang sampai saat ini saya selalu mengkategorikan blog ada di salah satu dari tiga definisi tersebut, yaitu:

1. Microblogging
Seperti layaknya Social Media lainnya, microblogging memiliki fungsi “share” yang jelas, namun karena dulunya dibuat untuk bisa digunakan juga dengan media mobile (saat itu sms), maka jumlah karakter yang bisa di posting sangat terbatas, yaitu hanya 140 karakter. Lalu apa istimewanya dengan fitur yang hanya bisa memuat 140 karakter? Banyak orang menyukai microblogging karena kecepatannya, dan saking cepatnya hingga menyerupai aktifitas chat, hanya dengan microblogging ini kita bisa berkomunikasi sekaligus dengan banyak orang. Twitter adalah pelopor microblogging dan juga memiliki pengguna terbesar sampai saat ini.

2. Blogging
Blogging adalah aktifitas awal yang dilakukan pada media blog. Tidak seperti microblogging yang terbatas hanya 140 karakter, aktifitas blogging biasanya menuntut kita untuk menulis sesuatu yang jauh lebih serius dibandingkan dengan aktifitas microblogging, walaupun pendapat ini pun sebenarnya sama sekali bukan menjadi kesepakatan umum, tapi setidaknya dengan media yang melonggarkan untuk kita mengisi konten sebanyak apapun, lalu dengan media apapun membuat para pemilik blog biasanya berfikir lebih jauh ketika memutuskan untuk mengisi konten didalamnya. WordPress & Blogger adalah dua produk yang leading dalam jajaran produk blog

3. Social Networking
Media social network adalah media yang menggabungkan semua aspek dalam aktifitas “berbagi” di internet yang biasa disebut dengan social networking. Dengan media ini beberapa aktifitas dari social media bisa dilakukan dalam satu tempat, misalnya aktifitas mengupdate status (microblogging), blogging, photo sharing, link-sharing, application sharing, etc, etc. Dengan fungsinya yang luas, maka kehadiran media social networking ini membuat aktitas blogging di blog menjadi banyak yang mandeg karena biasanya ada juga fungsi blog dalam media ini. Contoh yang paling populer saat ini adalah Facebook, lalu ada juga Friendster, dan lain sebagainya.

Butuh waktu beberapa bulan buat saya untuk memutuskan dan mengatur bagaimana status semua account-account produk social media yang saya miliki sampai akhirnya saya menyusun dan redefinisikan kembali ketiga point diatas. Hasilnya adalah:

1. Saya memperlakukan Facebook account saya plus Facebook Page saya (Bangwinissimo Post) sebagai kantor saya, dimana semua trafik data informasi bisa didistribusikan ke seluruh network yang terhubung dengan Facebook account saya.

2. Saya memperlakukan  Twitter account saya sebagai tim wartawan sekaligus juga tim penjual (sales) saya. Dimana dengan Twitter saya bisa mendapatkan informasi secara cepat dan mengalirkannya ke kantor operasional saya untuk juga bisa di share ke “koran” saya (Bangwinissimo Post) yang ada di negara “Facebook”.

3. Saya selalu menganggap blog saya seperti rumah saya, dimana semua materi yang di share disini lebih pada hal-hal yang personal, pemikiran-pemikiran ataupun ide-ide. Tapi saya pun memasukkan ruang kerja disitu (Facebook Badge dan Twitter status) sehingga para pengunjung tetap bisa mengikuti apa saja yang terjadi di ‘kantor’ saya (Facebook badge) dan juga dengan tim wartawan dan tim penjual (Twitter) saya.

Dengan pengaturan seperti ini maka tidak ada alasan untuk mengabaikan produk-produk social media yang saya miliki. Semuanya memegang peranan penting dan semuanya menjadi bisa saling mendukung karena semuanya memang terhubung satu sama lain.

Bagaimana dengan anda?

Apa Gunanya Berbagi di Social Media?

Dalam buku yang berjudul Socialnomics oleh Erik Qualman ada beberapa contoh kasus yang berkaitan dengan penggunaan Social Media yang sangat sejalan dengan ‘budaya ngobrol’ yang kebetulan pernah saya buat blogpost nya beberapa saat yang lalu, sehingga saya tertarik untuk menulis blogpost lanjutan untuk sekedar berbagi.

Judul di atas sebenarnya pertanyaan sederhana yang sering dilontarkan oleh banyak pengguna social media saat pertama kali melihat rentetan status updates yang mereka terima dikala mereka mulai menambahkan teman-teman pada friendlist mereka atau mengikuti account Twitter teman-teman sebagai follower mereka. Beberapa pengguna bahkan menjadi frustasi saat mereka tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Sejauh pengamatan saya, pengguna social media di Indonesia terbagi paling sedikit ada tiga jenis yaitu

  • Penganut ‘budaya ngobrol’ yang memang menjadi budaya dasar kita semua, sehingga dalam sudut pandang mereka social media ini adalah sebuah alat untuk mempermudah mereka melakukan aktifitas ‘bergaul’ tersebut.
  • Mereka-mereka yang memang menggunakan social media hanya untuk mendapatkan hal-hal yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Biasanya kalangan ini jauh lebih ‘pendiam’ dan hanya merespons hal-hal yang sesuai dengan interest mereka serta juga hanya berbagi untuk hal-hal yang spesifik itu pula.
  • Mereka-mereka yang memang sudah dikenal dalam kehidupan sehari-hari memiliki keahlian tertentu ataupun sudah dikenal dalam topik-topik tertentu. Kalangan ini bisa tetap ‘rame’ bergaul menggunakan social media tapi juga bisa fokus bila sedang berbagi hal-hal yang mereka kuasai.

Lalu pertanyaannya, jenis manakah yang paling banyak di Indonesia? Bila kita lihat perkembangannya social media yang sangat pesat di Indonesia, maka saya bisa menebak bahwa kalangan pertama lah yang akan memimpin lalu disusul dengan kalangan ketiga, dan kalangan kedua menempati urutan terakhir. Ada dasar pembuktian untuk itu? Sayangnya saya belum punya oleh karena itu saya hanya bisa menebak, dan saya janji jika saya mendapatkannya akan saya posting pada blogpost berikutnya :-D

Kunci dari social media adalah memungkinkan kita dengan mudahnya mengikuti apa yang sedang orang lain lakukan melalui pengamatan sederhana. Beberapa orang bisa berargumen, “wah, sekarang saja waktu saya sudah tidak cukup, bagaimana mungkin saya mesti meluangkan waktu lagi hanya untuk mengikuti kegiatan orang lain atau tetap updated dengan kondisi orang lain? Itu buang-buang waktu namanya!” Ini adalah kesalah-pengertian yang mendasar, karena pada intinya sebenarnya “buang waktu di Facebook dan Social Media bisa membuat kita lebih produktif”. Walaah bagaimana bisa? Coba saya runut sebuah contoh kasus tentang seorang karakter ibu yang kita sebut saja ibu Ida.

Pada satu saat, beberapa hari menjelang 17 Agustus, ibu Ida harus ke dokter untuk mengecek kandungannya. Tapi ternyata ia mendapatkan urutan ke 5, pada saat ia sampai di sana. Bila setiap pasien rata-rata menghabiskan waktu 5 menit saja, maka ibu Ida paling sedikit harus menunggu selama sekitar 25 menit. Selama waktu menunggu tersebut, ibu Ida bisa melakukan beberapa pilihan:

  1. Duduk di ruang tunggu dan baca-baca majalah yang belum tentu ia sukai
  2. Menelpon beberapa teman dan ngobrol sana-sini yang secara otomatis mengganggu pasien lainnya di ruang tunggu.
  3. Pergi ke mall terdekat sambil menunggu dengan resiko nomer urutnya terlewati plus belanja hal-hal yang tidak ia butuhkan.
  4. Memonitor updates pada social media melalui telpon genggam nya.
  5. Merenung dan jengkel dalam hati karena ia harus menunggu sedemikian lama.

Ibu Ida akhirnya memilih no. 4, dan ini lah yang terjadi:

  • Status ibu Ida: Harus menunggu selama kira2 25 menit di dokter, enaknya ngapain ya?
  • Status teman 1: Asiiik bakalan liburan ke Baliiii…!!
  • Status teman 2: Wah gak nyangka anakku senang makan roti + peanut butter.
  • Status teman 3: alhamdulillah aku hamil
  • Status Andy anaknya ibu Ida: Asiik, ujian matematika dapet A, mesti dirayain nih
  • Komentar teman 4 buat ibu Ida: Paling asik kalau lagi nunggu gitu ya meditasi dan yoga, sekalian praktek apa yang dilatih kan?
  • Status teman 3: Akan melakukan USG utk pertama kali. Kami memutuskan utk tidak mendahului cari tahu laki2 atau perempuan
  • Post dari teman 5: Video tentang bagaimana mendekor sepeda untuk pawai. Sangat berguna untuk pawai 17an www.tinyurl.com/pwspd

Setelah membaca status updates tersebut ibu Ida masih ada waktu beberapa saat untuk mempraktekkan meditasi untuk ibu-ibu hamil, plus yoga ringan yang sering diajarkan di kantor. Setelah itu ia langsung menambahkan reminder untuk membeli sesuatu untuk anaknya sebagai hadiah atas lulus dengan angka baik.

Ibu Ida akan mengunjungi teman 3 yang baru ketahuan hamil tersebut untuk memberikan selamat. Karena sudah ter update, maka ibu Ida tidak akan bertanya-tanya jika melihat perubahan pada temannya tersebut, dan juga ia tidak akan buang-buang waktu bertanya apakah bayi mereka laki-laki atau perempuan berdasarkan status updates teman 3 tersebut karena menurut pengalamannya sangat melelahkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Dalam perjalanannya pulang dari dokter, ibu Ida menyempatkan diri mampir ke toko swalayan untuk membeli es krim buat hadiah anaknya, lalu suami ibu Ida menelpon.

“Halo sayang, aku dalam perjalanan pulang ke rumah ya. Kamu hari ini gimana kabarnya?”

“Ya masih lumayan sibuk sih, masih ada satu pe er, yaitu bantuin Andi mendekorasi sepedanya, cuman keliatannya gak gitu bagus. Kertas hiasnya robek terus.”

“Tapi tadi aku lihat dari link yang di post oleh teman 5 ada video tentang bagaimana caranya mendekorasi sepeda, mungkin kamu bisa bantu cek video nya kalau sudah sampai rumah. Kali-kali aja idenya bisa kita pakai.”

Cerita tentang ibu Ida ini hanya ilustrasi kehidupan sehari-hari yang tidak terlalu mengada-ada, tentunya. Ini adalah contoh bagaimana social media menjadikan pertanyaan “Apa Gunanya Berbagi di Social Media?” jadi bisa terjawab. Dan juga mementahkan anggapan bahwa social media hanya cocok untuk anak muda yang terlalu banyak waktu senggang alias banyak nganggurnya.

Budaya Ngobrol di Social Media

Kita semua tentunya mengenal apa yang disebut dengan Twitter,  microblogging tool yang memiliki fungsi awal “berbagi” dengan teman-teman kita apa yang sedang kita kerjakan. Setidaknya itulah yang diinginkan oleh  Jack Dorsey ketika pertama kali membuat Twitter ini. Dengan karakteristik yang sangat mirip SMS (140 karakter), maka Twitter ini sempat dijuluki “SMS of the Internet” .

Fungsi awal boleh-boleh saja diinginkan oleh si pengembang, tapi tetap saja penggunaan sebuah produk itu nasibnya ditentukan oleh si pengguna. Saya ingat di jaman mailing-list masih jaya-jayanya (di sekitar tahun 1997 sampai dengan mulai lahirnya Social Network), sudah menjadi hal yang biasa untuk membiarkan para member untuk menggunakan mailing-list hanya untuk sekedar menyapa, janjian, atau paling jauh menggosip sebelum mereka kembali ingat pada tujuan awal dibuatnya mailing-list tersebut (kecuali memang mailing-list tersebut untuk tujuan tersebut). Begitu juga dengan Twitter dalam pengamatan saya semenjak menggunakan Twitter pada tahun 2008 sampai sekarang pun mengalami hal yang serupa. Selayaknya sebungkah tanah liat maka tiap orang bisa menjadikan Twitter tidak melulu tembikar, tapi juga patung, dan perkakas-perkakas lainnya. Setidaknya analogi ini lah yang saya tangkap ketika pertanyaan tentang fungsi Twitter ini dijawab oleh tiap orang dengan cara yang berbeda-beda, yaitu mulai dari mengupdate kegiatan yang sedang dilakukan, berbagi rencana, janjian, ngobrol, dan pesan apa saja yang bisa muat dalam batas 140 karakter tersebut.

Karakter yang saya dapatkan sebagai seorang Indonesia yang ternyata sangat signifikan bedanya dengan negara-negara lain (bahkan dengan negara tetangga sekalipun) adalah budaya ngobrol. Orang Indonesia sangat suka ngobrol, suka ngumpul, suka bersenda gurau, dan dengan karakter dasar ini maka teknologi yang berkaitan dengan internet menjadi perpanjangan fasilitas yang memungkinkan kita semua melakukan budaya ngobrol ini. Sebut saja mulai dari mbah nya Social Media, Mailing-List (dimana pada saat itu belum muncul istilah Social Media), yang dijadikan ajang ngobrol, bercanda, selain tentunya juga untuk berdiskusi. Juga Forum yang sama seperti mailing-list dibuat dengan tujuan untuk saling berbagi informasi dan diskusi, juga akhirnya digunakan untuk menjalankan budaya ngobrol itu tadi. Bersamaan dengan itu, di ranah lain yaitu mobile, SMS menjadi fasilitas yang sangat populer karena bisa mengakomodir budaya ngobrol ini. Bagaimana tidak, yang tadinya kita harus melakukan minimal kegiatan menelpon kini bisa dengan mudahnya dilakukan dengan hanya mengandalkan jari jemari kita, tanpa suara, dan instan. Sebuah lompatan yang cukup jauh yang membuat berkomunikasi (bahasa keren dari ngobrol) jadi tak terbatas.

Bagaimana dengan Social Media lainnya seperti Facebook dan Friendster? Dengan fitur yang menunjang member untuk bisa berinteraksi (lagi-lagi istilah keren dari Ngobrol) kedua social media tersebut berhasil merebut hati masyarakat kita, walaupun akhirnya Facebook dengan pertumbuhannya yang fenomenal di Indonesia lah yang jadi pemenang. Dibandingkan dengan Twitter, Facebook memiliki fasilitas interaksi antar member yang jauh lebih lengkap, mulai dari fitur status (sama dengan fungsi Twitter) sampai dengan segala macam sharing. Sharing tulisan dgn notes, foto, link, sapa-menyapa dengan Wall, sampai dengan fasilitas yang menurut saya tidak ada gunanya, yaitu Poke (LOL). Sehingga dengan semua fasilitas interaksi ini menjadikannya sangat pas dengan karakter masyarakat kita, maka populer lah Facebook di Indonesia…:-)

Dengan karakteristik masyarakat Indonesia ini, maka sangat jelas apa yang bisa dilakukan oleh pengembang social media bila ingin sukses di pasar lokal Indonesia. Mendekatlah pada pengguna dan masuklah dengan menggunakan budaya Ngobrol, dengan tentu saja ngobrolnya mesti menarik (ini mandatori untuk setiap produk apapun juga, hehehe). Setidaknya ada tiga produk lokal yang lewat di kepala saya pada saat ini yang saya anggap berhasil menggunakan pendekatan budaya Ngobrol ini, Kemudian.Com, Politikana.Com dan Koprol.Com. Menurut saya ketiga produk ini merupakan model Social Media lokal yang berhasil merangkul masyarakat kita.

Bagaimana pendapat anda?

Merubah Pembajakan Menjadi Revenue ala YouTube

Sebulan yang lalu, salah seorang pengguna YouTube, Dave75 mengunggah potongan video dari AMC series yang berjudul "Mad Men".

Youtube_madmen

Mungkin para penonton tidak memperhatikan, tapi potongan video tersebut menunjukkan poin penting tentang advertising modern.

Di masa lalu, sangat besar kemungkinan Lions Gate, sebagai pemegang copyright atas "Mad Men" akan meminta agar potongan klip yang diunggah oleh Dave75 untuk dihapus. Tapi akhirnya mereka (Lions Gate) memutuskan untuk membiarkan potongan video tersebut terus ada di YouTube, dan sebagai imbal balik, YouTube memasang iklan pada potongan video tersebut dan membagi revenue yang didapat dengan Lions Gate.

Yang luar biasa, lebih dari sepertiga dari dua milyar views pada video di YouTube dengan iklan setiap minggu memiliki kasus seperti video yang diunggah oleh Dave75 tersebut di atas yang diunggah tanpa ijin dari pemilik copyright tapi dibiarkan atas pilihan mereka. Mereka langsung dikenali oleh YouTube dengan menggunakan sistem yang disebut Content ID yang menscan video dan membandingkannya dengan materi yang disediakan oleh pemilik copyright.

Analis menyebutkan bahwa jumlah 2 milyar views yang merupakan peningkatan 50% dibandingkan tahun lalu adalah hanya 14% dari video-video yang dilihat setiap minggunya di YouTube. Dan itu cukup untuk membuat Youtube menjadi profitable pada tahun ini.

Dengan cara seperti ini, YouTube memberikan option pada para pemegang copyright untuk tidak menganggap pengunggah video sebagai pembajak dan ini sekaligus menyelamatkan pengguna mereka juga. Alhasil semua senang dan semua bahagia

(bahan tulisan dan foto diambil dari artikel di The New York Times)

 

Pendekatan Mesin dan Manusia dalam Social Media

Banyak cara untuk mengelola social media terutama jika dikaitkan dengan kepentingan tempat kita bekerja. Pilihan yang paling jelas dan kadang kala secara refleks dilakukan oleh seseorang yang dipercaya untuk mengelola seocial media untuk sebuah perusahaan/organisasi adalah menjadi "mesin" atau "manusia".

Apa yang dimaksud dengan "mesin" dan "manusia" pada pengelolaan social media? Biasanya saya menyebut istilah mengelola secara "mesin" apabila Anda menjaga jarak dengan customer/follower di social media yg Anda kelola. Hal ini biasanya disebabkan karena keyakinan bahwa sebuah brand/perusahaan/organisasi mesti memelihara wibawa, sehingga secara otomatis dalam kepengelolaan pun Anda membuat jarak tersebut. Ciri-ciri pengelolaan secara "mesin" ini bisa dilihat dari:

  • Status stream biasanya waktu postingnya teratur dan konstan (biasanya menggunakan feed)
  • Komunikasi satu arah, yaitu biasanya tidak akan anda temukan respon balik bila seseorang bertanya/mengkoreksi pada apa yang distream

Sedangkan yang dimaksud dengan "manusia" atau human pada pengelolaan social media adalah jika Anda menggunakan pendekatan manusia dalam mengelola social media. Dalam hal ini biasanya jarak antara Anda dan customer/follower tidak sekaku bila Anda menggunakan pendekatan mesin dan juga status/posting yang sifatnya percakapan (conversation) mewarnai timeline. Ciri-ciri pendekatan "manusia" ini adalah:

  • Status stream tidak melulu informasi tapi juga greeting, obrolan singkat, respons, dan semacamnya.
  • Otomatis dengan begitu di saat-saat tertentu akan ada interaksi antara follower dengan pengelola social media.

Memang effort yang dibutuhkan untuk mengelola social media dengan pendekatan "manusia" ini lebih besar daripada pendekatan "mesin", namun dengan menjalin hubungan lewat social media lebih dekat justru bisa menciptakan pengguna-pengguna yang berpotensi menjadi pengguna setia dan bahkan menjadi evangelist untuk brand/perusahaan/organisasi Anda.

Bagaimana? Pendekatan mana yang Anda pilih?

Cara Sederhana Merespon Online Bad Publicity

Saat ini, siapa yang tidak tertarik dengan social media marketing? Apalagi bila para pemakai atau customer mulai menggunjingkan produk/brand Anda di status Facebook dan timeline Twitter. Tapi apa yang terjadi jika positive buzz yang terbentuk mulai ternodai dengan adanya bad publicity, karena seperti yang kita ketahui, begitu masuk ke "kolam" internet, apapun bisa terjadi. Apa yang Anda harus lakukan untuk menghadapi kemungkinan "tamparan" dari publik tanpa harus mengalami kerusakan yang lebih parah?

Dalam menghadapi situsai semacam ini, langkah yang sebaiknya diambil adalah dengan tidak berhubungan langsung dengan orang yang mengeluarkan statement negatif di ranah publik, karena peperangan kata-kata dan saling tunjuk malah akan membuat kondisi menjadi semakin parah. Anda harus segera menghubungi orang tersebut sesegera mungkin dengan menawarkan apa yang bisa Anda bantu melalui dialog offline.

Social media yang baik biasanya menyediakan fitur-fitur yang memungkinkan pengguna untuk melakukan pembicaraan privat, antara lain kalau Anda menggunakan Facebook, Anda bisa menggunakan fitur Messages, dan pada Twitter Anda bisa menggunakan fitur Direct Message, untuk berkomunikasi dengan orang yang bermasalah ini di luar public timeline. Atau bisa juga Anda menggunakan komunikasi via telpon dengan memberikan nomer-nomer yang bisa dihubungi.

Begitu komunikasi sudah bisa diarahkan pada situasi offline, maka permasalahan bisa mulai dipecahkan. Dan biasanya, jika masalah sudah terselesaikan maka yang akan terjadi orang-orang yang tadinya bersuara negatif akan kembali ke social media dan menceritakan kepuasan mereka karena bisa berinteraksi dgn Anda, ya pada dasarnya mengetahui suara mereka di dengar saja membuat mereka merasa nyaman. Selanjutnya yang tadinya bad publicity akan berubah jadi good publicity :-)

Inilah salah satu kelebihan dari social media marketing: Customer atau pengguna yang senang akan memberikan referal dari mulut kemulut dan juga sekaligus menjaga perusahaan/brand yang mereka cintai. Jadi jadikanlah orang-orang ini your guardian-angel di "kolam" internet :-)

Optimalisasi Dengan Social Media

Banyak yang bertanya pada saya, produk social media apa saja yang efektif untuk dimanfaatkan agar bisa memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan perusahaan, brand awareness, penjualan, dan lain sebagainya. Well, yang bisa saya katakan adalah, setiap produk social media punya advantage sendiri-sendiri sehingga ada baiknya jika kita menyediakan waktu untuk mempelajari produk-produk tersebut terlebih dahulu, dan biasakan "membuka mata" untuk bisa memantau perkembangan pada dunia internet.

Saya ambil contoh, pada saat Twitter baru mulai menanjak booming, Dell berhasil mengoptimalkan penggunaan account Twitter mereka (@DellOutlet) untuk mempush penjualan mereka. Apa yang berhasil dilakukan oleh Dell ini serta merta menyentak dunia internet pada saat itu, sehingga banyak brand mulai mencoba dan terjun ke dalam dunia internet dengan mencoba men-jump start account Twitter mereka.

Internet ini seperti lautan, dimana setiap gelombang yang ditimbulkan oleh penemuan-penemuan akan membuat gelombang riak baru di mana pada akhirnya para pelaku bisnis lah yang harus memformulasikan sendiri model bisnis mereka beserta perangkat-perangkatnya untuk bisa survive. Ini yang menyebabkan setiap kasus tidak bisa serta merta langsung di copy-paste kan antar bisnis. Ini juga yang menyebabkan kasus Dell tidak pernah bisa terulang lagi dengan mengcopy mentah-mentah apa yang di lakukan oleh Dell.

Starbucks membuktikan kesuksesan mereka dengan menjalankan pendekatan engaging pada Starbucks Facebook Page mereka. Buat yang belum tahu, Starbucks adalah consumer brand yang pertama yang mencapai jumlah 10 juta fans di Facebook. Dan kesuksesan Starbucks ini bisa kita lihat dalam video presentasi di bawah ini yang dilakukan oleh Alexandra Wheeler (Digital Director of Starbucks) pada event Social Media Influence 2010 conference di London.

Kesimpulan apa yang bisa kita ambil pada dua contoh kasus di atas? Ya setiap brand adalah unik, sehingga ini membuat setiap brand harus bisa menemukan formulasi khusus yang bisa dipergunakan secara optimal untuk target-target yang ingin di capai. Apakah Anda sudah mempersiapkan strategi social media Anda?